Generasi stroberi pertama kali muncul di
Taiwan dimana digunakan untuk mengindikasi generasi yang lahir setelah tahun 1981. Istilah tersebut
digunakan untuk menggambarkan generasi masa itu yang mengalami kesulitan dalam
menghadapi tekanan sosial
Gen Z juga sering disebut sebagai
Strawberry Generation alias Generasi Stroberi. hancur
hanya dengan sedikit tekanan. Gen Z juga sering mudah menyerah dan punya
mentalitas yang kurang tangguh.
Karakteristik Generasi Stroberi
1. Terjebak di zona nyaman
Salah satu penyebab munculnya generasi stroberi adalah orang tua saat ini
cenderung memanjakan anaknya. Hal ini menyebabkan sang anak dapat memiliki pola
pikir yang tidak realistis. Sebagai contoh, di ranah pekerjaan mereka akan
meminta gaji yang besar tanpa menimbang kapasitas skill yang
dimiliki telah sesuai atau belum dengan kebutuhan pasar.
2. Rapuh
Ini salah satu faktor penamaan generasi stroberi dikarenakan mereka mudah rapuh
dan menyerah terhadap berbagai tekanan sosial yang muncul di sekitar mereka.
3. Tidak memiliki rasa tanggung
jawab
Biasanya generasi Stroberi tidak mampu melihat kesalahan dan tidak apa upaya
untuk memperbaikinya. Tak jarang, banyak diantara mereka yang bahkan
melimpahkan kesalahan tersebut pada orang lain.
4. Harapan yang tidak realistis
Harapan dan keinginan tidak selalu berjalan mulus. Generasi stroberi cenderung
dikenal tidak realistis dan memaksakan kehendak.
Di balik sisi negatifnya, sebenarnya generasi ini punya warna karakteristiknya
tersendiri. Apabila diarahkan dengan baik, maka akan potensial untuk membawa
perubahan masa depan yang lebih baik.
Potensi Generasi Muda Saat Ini
1. Menyukai tantangan
Generasi stroberi lebih menyukai aktivitas yang baru dan menantang. Mereka
menghindari aktivitas yang monoton atau rutinitas yang berulang. Hal ini
dinilai cukup baik karena bisa membantu karir mereka di masa yang akan datang.
2. Bekerja sesuai passion
Umumnya tujuan utama manusia bekerja adalah mencari uang untuk menyambung
hidup. Namun, tidak dengan generasi stroberi. Mereka punya sudut pandang yang
berbeda bahwa bekerja tidak hanya soal uang, tetapi juga pengembangan minat dan
bakat (passion). Tidak heran generasi ini terkenal memiliki
banyak ide-ide kreatif.
3. Mengikuti perkembangan zaman
Generasi stroberi memiliki pemahaman yang baik dalam urusan teknologi.
Kemampuan mereka yang mudah beradaptasi dengan kemajuan zaman dapat membantu
berbagai aspek kehidupan menjadi lebih baik, terutama membantu pengembangan
perusahaan yang berfokus pada inovasi teknologi.
4. Tidak takut menyampaikan
pendapat
Generasi stroberi memiliki kecenderungan untuk berbicara dengan lugas dan tidak
takut menyampaikan pendapatnya. Mereka juga dikenal berani menyampaikan ide-ide
kreatif dan mendorong inovasi baru untuk pengembangan perusahaan.
Dalam Islam, pemuda adalah aset
yang sangat berharga. Islam pun menaruh perhatian besar pada para pemuda.
Pemuda merupakan agen perubahan, penerus estafet perjuangan dan kepemimpinan
dunia. Makanya dalam Islam eksistensi pemuda sangat penting. Pemuda dalam Islam
adalah pemuda tangguh hasil pendidikan keluarga muslim yang tangguh, serta
sistem tangguh yang memfasilitasi tumbuh kembang generasi menjadi pemuda yang
kuat serta taat, yang tak hanya berorientasi keduniaan semata, namun bervisi
jauh ke depan, yaitu kebahagiaan di kehidupan akhirat. Karena sesungguhnya usia
muda kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah
Dalam Kitab Ash-Shahihah
no. 946, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadis Rasulullah terkait
masa muda yang akan ditanya oleh Allah kelak di hari perhitungan, "
Tak akan bergeser kaki seorang hamba di hari kiamat dari sisi Rabb-nya sebelum
ditanya tentang lima perkara; mengenai umurnya untuk apa ia gunakan, masa
mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia hasilkan dan untuk apa,
dan ilmu untuk apa yang ia amalkan."
Dalam pandangan Islam, ujung
tombak keberhasilan ataukah kegagalan perjuangan dakwah ditentukan bagaimana
cara untuk melejitkan potensi para pemuda. Jika kita baca Sirah
Nabawiyah, maka akan kita dapatkan kisah-kisah para pemuda pemberani
nan tangguh yang memeluk dan memperjuangkan Islam, tak jarang mereka adalah
para tuan muda dari keturunan terpandang kaumnya. Namun mereka tak menjadi
manja, mereka teguh memperjuangkan kebenaran meskipun harus meninggalkan
gelimangan harta dari keluarganya, dengan keimanan yang kokoh serta tekad baja,
mereka menjelma menjadi kesatria-kesatria Islam, dan menjadi para pemimpin umat
dari kalangan pemuda.
Contohnya, Mush'ab bin Umair
sang Crazy Rich kaum Quraisy, yang tak gentar dengan
pemboikotan keluarganya dengan memblokir semua asetnya, tak takut jatuh miskin
demi Islam meski harus menanggalkan semua outfit-nya yang super
mahal dan trend setter, dia menjelma menjadi dai yang
mengajak penduduk Yatsrib masuk Islam dan syuhada Uhud. Ada
pula Ali bin Abi Thalib, dia memeluk Islam pada usia sepuluh tahun, Guys. Dia
begitu berani menggantikan tempat Rasulullah ketika dikepung oleh kaum Quraisy
untuk dibunuh dalam peristiwa hijrah. Bahkan dia juga menyusul hijrah dari
Makkah ke Madinah seorang diri dengan berjalan kaki, meski kakinya telah
terluka namun ia pantang mundur demi Islam. Dalam Perang Badar pun, dia
berhasil mengalahkan Syaibah bin Abi Rabi'ah dalam perang tanding, yang semakin
memompa semangat pasukan muslim, bahkan kemenangan ini menjadi titik tolak
kemenangan pertama dalam sejarah Islam.
Tentu kita pun tak lupa dengan
kisah Sultan Muhammad Al-Fatih. Sejak kecil ia memang mempunyai keunggulan
dalam menangkap ilmu. Kegemarannya melahap buku-buku sejarah, mendorongnya
untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan kemampuannya dalam memimpin,
hingga mengantarkannya mampu memobilisasi pasukan dalam pengepungan benteng
Konstantinopel. Sebagai pancaran keagungan akhlaknya terhadap syariat Islam,
cerminan kuatnya akidah yang telah terpatri dalam dirinya. Ia seorang kesatria
tangguh namun juga tawaduk. Ia begitu memuliakan ulama, namun ia juga
pemberani. Tak jarang ia terjun langsung ke medan laga dengan pedangnya
sendiri.
Ia pun tak mudah menyerah. Ini
terbukti dengan persiapannya yang tak kenal lelah demi menaklukkan Bizantium
dan melebarkan dakwah dan jihad Islam. Ia mempersiapkan 250.000 pasukan untuk
mengepung Konstantinopel, benteng tersulit di dunia untuk ditaklukan. Gempuran
demi gempuran belum juga membuahkan hasil, bahkan pasukannya mulai banyak yang
gugur. Namun, ia terus memikirkan bagaimana caranya untuk dapat menjebol
pertahanan kota itu. Dan akhirnya dengan izin Allah ia mengeluarkan ide
cemerlang untuk mengangkat kapal-kapal perangnya dan memutar berlayar menaiki
gunung Galata demi dapat masuk ke selat Tanduk Emas. Inilah strategi perang
paling brilian yang pernah dilakukan di dunia. Membuktikan ketajaman dan
kecepatan berpikirnya, keteguhan tekadnya serta ketepatan dalam beraksi, hingga
menjadi pintu kemenangan penaklukan Konstantinopel, simbol kekafiran dunia pada
saat itu.
So, Guys. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah merasakan apa yang
dirasakan Mush’ab Bin ‘Umair? Ali bin Abi Thalib, ataukah Muhammad Al-Fatih?
Sudahkah kamu berjuang untuk agamamu? Dan tidak mudah meleyot hanya gara-gara
putus cinta atau urusan duniawi semata? Apakah kamu masih suka baper
dengan bully-an teman? Apakah masih ingin jadi generasi stroberi
yang mudah penyok hanya dengan sedikit ujian hidup?
Udahlah, ayo move on! Sudah
saatnya generasi Islam bangkit. Jadilah pemuda Islam yang tangguh yang tak
mudah melempem apalagi cepat patah arang. Ayo jadi generasi tangguh dengan
Islam sebagai jalan hidupmu, dan perjuangkan Islam agar menjadi jalan hidup
bagi dunia.
ada 3
nilai di dalam Al-Qur`an yang bisa menjadi pedoman bagi generasi muda untuk
membentuk resiliensi diri yang kuat dan tidak menjadi Strawberry Generation. Sehingga, mereka bisa menjadi
generasi yang lebih tangguh dalam menghadapi kesulitan dan problematika
kehidupan. Antara lain:
Pertama,
meyakini bahwa kesulitan hidup yang dihadapi tidaklah melebihi batas kemampuan
dirinya. Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam Qs. Al-Baqarah [2] ayat 286
berikut
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya”
Ibnu
Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut mennerangkan bentuk lemah lembut, kasih
sayang dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya. Dia tidak akan membebani hamba-Nya
dengan cobaan dan kesulitan hidup yang melebihi kesanggupannya.
Kedua,
percaya dan yakin bahwa kesulitan hidup yang dihadapi akan tergantikan dengan
kemudahan dan kesenangan. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Qs.
Al-Insyirah [94] ayat 5-6 berikut.
(6) إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا (5) فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “(5) Karena sesungguhnya setelah
kesulitan itu ada kemudaha. (6) Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada
kemudahan.”
Ketiga,
menjadikan sholat dan sabar sebagai penolong dalam menghadapi kesulitan dan problematika
kehidupan. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al-Baqarah [2] ayat 45
berikut:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Artinya: “Dan jadikanlah salat dan sabar
sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu, sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al-Baqarah (2): 45).
# Remaja Muslim
Anti Rapuh
Teman Surga,
sebagai manusia kita nggak bisa lepas dari yang namanya masalah. Di mana pun,
kapan pun, dan dengan siapa pun. Biar nggak ketularan perilaku Generasi
Stroberi yang doyan lari dari masalah, kita mesti pandai menghadapi masalah.
Rumusnya, “kalo salah dalam memandang masalah (ujian), maka salah mengambil
sikap”.
# Pertama, masalah
merupakan bentuk kasih sayang Allah swt yang berupa ujian dan peringatan.
# Kedua, masalah
merupakan cara Allah swt untuk meningkatkan derajat dan status kita sebagai
hamba.
# Ketiga, Allah swt
memberikan masalah sesuai dengan kadar kemampuan kita. Allah swt Maha Adil yang
tidak akan membebani hambaNya di luar batasnya. Cara pandang seperti ini akan
membuat kita selalu optimis dalam menjalani hidup dan menghadapi masalah.
Ketika kita telah yakin, maka kita tinggal mencari jalan keluarnya.
# Keempat, setiap
masalah pasti ada solusinya. Di mana ada kesulitan di situ pasti ada kemudahan,
sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S al-Insyirah: 6, "Maka sesungguhnya
bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada
kemudahan."
# Kelima, coba
renungkan hadits Rasulullah saw berikut ini: "Perhatikanlah orang yang
lebih rendah keadaannya dari pada kalian, dan jangan perhatikan orang yang
lebih sukses dibandingkan kalian. Karena ini cara paling efektif, agar kalian
tidak meremehkan nikmat Allah bagi kalian." (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu
Majah)
Jadi, Generasi
Stroberi yang dikenal rapuh saat hadapi tekanan hidup bukan karena banyak atau
beratnya masalah yang mereka hadapi. Tapi mungkin belum tahu sikap terbaik
untuk mengatasi setiap masalahnya. Beruntungnya kita sebagai generasi muda
muslim, ajaran Islam yang kita kaji secara rutin membuat kita tetap enjoy
ketika diuji dengan masalah. Untuk itu, jangan sampai absen ngajinya. Gass
poll! Karena kita remaja muslim yang tangguh anti rapuh. Generasi
Stroberi, no way!